Kabar Tips Kesehatan – Waktu Bermain Berdampak Pada Prestasi Anak

0
479

Berdasakan dari beberapa penelitian yang dilakukan selama 40 tahun lamanya telah dibuktikan bahwa bermain menjadi sebuah kegiatan yang amat penting dalam perkembangan aspek intelektual, emosional, sosial bdan bahkan fisik dari anak-anak (Golinkoff, Hirsh-Pasek, Singer 2006). Namun sayangnya ternyata kegiatan bermain ini makin kehilangan popularitasnya daan dianggap tak berguna, serta dirasa ketinggalan jaman.

 Lebih jaauh lagi menurut sebuah riset, menunjukkan bahkan waktu untuk bermain dari anak-anak telah berkurang yang mulanya dari 40 persen di tahun 1981 dan jadi 25 persen saja pada tahun 1997. Para anak usia pra sekolah dipaksa untuk berkutat pada kegiatan yang lebih memproritaskan pada aspek kognitif saja dimana hal ini tak sesuai dengan perkembangan usianya (Golinkoff dkk 2006).

“Dari Indonesia, utamanya pada sejumlah kota besar, kondisi yang dijumpai sangat mirip dengan yang dideskripsikan oleh Golinkoff dkk,” terang psikolog Mayke Tedjasaputra dalam konferensi pers dalam tajuk Rinso Kids Today Project, dari loasi SDB Menteng 01, kawasan Jakarta Pusat, Rabu (26/3).

 Mayke juga menjelaskan bahwa agar hidup lebih sehat serta sejahtera, pada orang dewasa pun memerlukan keseimbangan hidup yakni antara kegiatan dari bekerja dengan rekreasi. Serupa dengan yang diperlukan oleh orang dewasa, pada anak pun juga sangat butuh untuk mempunyai waktu seimbang diantara porsi belajar dengan bermain. “Jika dihitung-hitung, porsi dari kegiatan belajar untuk anak-anak usia SD bisa mencapai lebih dari 8 jam dalam sehari,” terang psikolog yang spesialis menjadi play therapist tersebut.

 Dalam waktu sekian lama dalam sekolah, anak-anak ini layaknya terkurung ada dalam kelas, waktu istirahat cuma 2 kali 15 menit pada tiap harinya. Setelah usai jam sekolah, mereka pun juga masih diharuskan untuk mengikuti kelas atau les tambahan jam pelajaran, dan bahkan les lain yang terkadang bukanlah apa yang mereka minati. “Maka tidak aneh jika anak-anak juga alami stres, ataupun merasa jenuh dalam belajar, serta tak bersemangat dalam belajar, atau bahkan prestasi pada hal akademik yang melorot,” kata Mayke.

LEAVE A REPLY