Info Insiden Nasional – 8 Bocah Tewas di Tambang Akan Diadukan ke Presiden

0
772

Haris Retno Susmiyati SH.MH, Dosen Falkultas Hukum Universitas Mulawarman (Unmul), menyatakan bahwa kasus terkait tewasnya 8 anak di kolam sebuah tambang yang ada di Samarinda seharusnya jadi perhatian nasional supaya kasus tersebut memperoleh perhatian dari kalangan penegak hukum.

Sesuai yang disampaikan oleh Retno pada acara diskusi yang berjudul “Tanggung Jawab Hukum Reklamasi Lahan Paska Tambang ” dari Fakultas Hukum Unmul Samarinda, hari Rabu (16/4/2014). Hal ini harusnya bermula dari insiden pembantaian orang utan yang dilakukan perusahaan sawit Kalimantan yang tuntas usai diperhatikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Sedangkan untuk tujuan akhirnya ialah supaya tak ada lagi anak-anak yang tewas kian bertambah pada kolam tambang.

Dengan tempo paling lambat seminggu terang Retno, pihaknya bersama-sama dengan  mahasiswa FH konsentrasi agraria, Walhi, Jatam, dosen FH Unmul serta sejumlah LSM lain akan mengajukan laporan pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga kepada Presiden RI dari Jakarta. “Pada minggu-minggu ini, akan kita lakukan pelaporan pada pihak terkait baik menyangkut soal perlindungan anak, atau bahkan kepada Presiden. Terkait persoalan 8 anak yang telah tenggelam pada lubang-lubang bekas dari galian tambang,” terang Retno.

Lebih jauh lagi, juga ditegaskan oleh Retno, urusan terhadap pihak keluarga korban boleh saja selesai. Tetapi jika belum ada tindakan proses hukum, urusannya dengan negara belum bisa dikatakan selesai. Insiatif untuk mengadakan diskusi ini ujar Retno, berawal dari rasa keprihatinan insan hukum yang ada di Fakultas Hukum terhadap proses penegakan hukum pada kasus tersebut. Selain dari ini, bentuk dari diskusi ini merupakan bentuk langkah guna mendukung pihak kepolisian segera menuntaskan kasus dari meninggalnya 8 anak pada kolam tambang yang ada di Samarinda.

“Sasaran dari kami ialah mengapa kami menginisiasi acara diskusi pada hari ini ialah berangkat dari rasa keprihatinan bahwa ini adalah persoalan yang tetap berulang. Dan hal ini pun menjadi keprihatinan dari kita bersama, anak-anak seperti ini gak punya jaminan keamanan dari Samarinda ini. Padahal, katanya Samarinda itu kota yang layak anak. Jadi tanggungjawab dari kita bersama saja lah,” tutup Retno.

LEAVE A REPLY