Berita Internasional – Gunakan Istilah Budak Seks, Koran Jepang Minta Maaf

0
505

Sebuah surat kabar yang terbesar di Jepang meminta maaf lantaran elah memakai istilah “budak seks” bagi ara perempuan asing yang telah bekerja pada rumah-rumah bordil bagi para tentara Jepang saat Perang Dunia (PD) II dimana hal ini dinilai bukanlah suatu istilah yang tepat. Adalah Yomiuri Shimbun yang menyatakan bahwa istilah “budak seks” ini tidak tepat lantaran berarti para perempuan ini dipaksa guna melayani kebutuhan seks dari para tentara Jepang. Koran beraliran konservatif ini mengidentifikasi ada sejumlah 97 artikel, dan 85 diantaranya telah mereka terbitkan, pada sepanjang tahun 1992-2013 memakai frasa “budak seks” maupun istilah yang sama.

Pada pernyataan yang dikatakan Kono 1993, bahwa Pemerintah Jepang menyebut ada banyak perempuan yang telah dipaksa namun beberapa pihak telah meminta supaya pernyataan tersebut dikaji lagi. Dalam pernyataan maafnya, Yomiuri pun juga menjelaskan terkait warga yang bukan Jepang memiliki kesulitan dalam memahami sebuah istilah “perempuan penghibur” dimana dipakai di Jepang guna menggambarkan para perempuan asing yang melayani para tentara Jepang.

Selain itu, Perdana Menteri jepang, Shinzo Abe serta sejumlah anggota parlemen serta para pegiat pun berkampanye agar tak memakai istilah “budak seks” dalam alasan bahwa para perempuan tersebut tidak pernah dipaksa. Mulai berkuasa pada Desember 2012 yang lalu, PM Abe sempat mengharap untuk mengkaji kembali pernyataan dari Kono 1993 tersebut, namun belakangan menegaskan tak akan melakukannya sebab menerima protes dari pihak Korea Selatan serta beberapa pihak lain.

Pada bulan Mei 2013 yang lalu, Toru Hashimoto yang merupakan Wali Kota Osaka, mengatakan bahwa perempuan penghibur maupun jugun ianfu memberikan kesempatan untuk istirahat kepada para tentara Jepang yang mana hidupnya senantiasa berada di dalam risiko berat. Masalah “wanita penghibur” bagi tentara Jepang di masa PD II ini menjadi suatu masalah yang cukup peka pada kalangan negara Asia Timur serta negara Asia Tenggara, yang mana memiliki pendapat banyak dari perempuan asal negara mereka yang telah dipaksa guna melayani kebutuhan seks para tentara Jepang pada masa itu.

LEAVE A REPLY