Info Hangat Politik – 4 Komentar Negatif Usai Pencapresan Jokowi

0
751

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo telah mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden atau capres yang akan diusung oleh PDI Perjuangan di Pemilu tahun ini. Deklarasi tersebut telah dilakukan setelah keluarnya mandat yang diberikan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Pengumuman tersebut langsung mendapat sambutan antusias dari para pendukung Jokowi di berbagai daerah. Tidak sedikit para warga yang mengungkap rasa senangnya dengan berbagaimacam cara.

Namun tidak sedikit yang memberikan cibiran atas keputusan Jokowi maju dalam bursa calon presiden. Seperti yang telah diungkap para pengamat politik di LIPI atau Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, ekonom dan juga partai koalisi Jakarta.

Berikut ini adalah beberapa komentar negatif tentang pencapresan Jokowi.

1, Tidak Mempunyai Kemampuan Ekonomi

Dari segi popularitas, tentu Joko Widodo sudah tidak bisa diragukan lagi. Sejumlah survei menempatkan figur Gubernur DKI Jakarta ini menjadi sosok yang paling tepat untuk memimpin Indonesia.

Akan tetapi beberapa pihak masih meragukan kemampuan Joko Widodo dalam hal perekonomian nasional. Meskipun ketika dirinya mengumumkan diri sebagai capres, IHSG atau Indek Harga Saham Gabungan naik pada level 4878 atau naik 152 poin, ditambah lagi menguatnya nilai Rupiah menuju level 11.375 per US Dollar.

Para ekonom sedikit meragukan kapasitas Joko Widodo untuk mengatur perekonomian Indonesia. “Ini tentu sangat erat kaitannya ketika rezim yang nantinya akan membuat perubahan terhadap kebijakan ekonomi terutama dalam waktu 5 tahun kedepan.”jelas Direktur INDEF, Enny Sri Hartati.

2, Tidak Akan Mempengaruhi IHSG

Meskipun IHSG naik ke level 4878 dan nilai Rupiah menguat menuju level 11.356 per USD usai menyatakan dirinya sebagai capres. Para ekonom menilai jika hal ini sudah biasa terjadi.

“Tentu berbeda kondisi pemilu 2014 dengan pemilu 2009 lalu. Di tahun 2009 tidak terjadi defisit pada transaksi berjalan. Sedangkan pada pemilu 2014 kebanyakan para investor telah mengetahui hasilnya sehingga menjadi keunggulan dalam peta dinamika ekonomi tetapi meski begitu ini tentu masih bisa saja berubah sewaktu – waktu.”

“Karena pencapresan ini masih terjadi banyak sentimen politik. Soalnya ini kan berbicara tentang pemimpin negara, tentu tidak mungkin mengandalkan sosok Jokowi saja.”tegas Enny Sri Hartati.

3, Melanggar Etika Politik

Muhammad Sanusi, Ketua Fraksi Gerindra DPRD DKI Jakarta menyayangkan keputusan Jokowi maju dalam pemilu 2014 sebagai capres. Apalagi masih terdapat beberapa program yang diusung Jokowi belum bisa berjalan dengan cukup baik semasa beliau menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Gerindra sih tidak masalah. Sejauh ini komunikasi kami dengan partai lain baik – baik saja. Tetapi kita hanya menyayangkan keputusan beliau karena beberapa program Pak Jokowi masih bermasalah dan belum berjalan baik.”

4, Tidak Memiliki Jam Terbang

Siti Zuhro selaku Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI mengatakan jika pemimpin di Indonesia tidak hanya dilihat dari usianya, tetapi dari kemampuan yang dia miliki untuk memimpin sebuah negara besar.

“Usia tentu tidak menjadi masalah. Yang paling utama adalah kecakapan dan kemampuan orang tersebut untuk duduk di RI 1 dan juga RI 2. Ingat, presiden dan wakilnya harus mampu membawa negara ini menuju level dunia, harus meredam berbagaimacam konflik. Nah, sosok muda ataupun tua tidak akan menjadi masalah.”

“Dia termasuk masih muda ya, 51 tahun ya ? Di atas 60 tahun baru dianggap tua. Yang lalu kita sangat pesimis serta kecewa karena para politisi muda banyak yang terjerat kasus korupsi. Kemudian muncul sosok Jokowi yang dianggap jujur, tetapi memang itu realita kenyataannya.”terang Siti Zuhro.

“Pengalamannya belum banyak, tetapi kita akui dari sisi lain Pak Jokowi menjadi sosok pemimpin harapan bangsa. Pak Jokowi yang tidak neko – neko. Tetapi mengenai jam terbang bagaimana ? Muda itu adalah muda sebagai seorang politisi saja.”tambahnya.

LEAVE A REPLY