Nasional – Ayah Pelaku Teror Bom, Mengaku Anaknya Adalah Korban

0
127

Kasus teror bom saat ini terjadi di Medan, tepatnya di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Jalan Dr Mansyur sangat menggegerkan. Diketahui bahwa pelaku teror bom tersebut seorang remaja yang sudah menjadi korban pencucian otak, ia adalah IAH (17).

Diketahui bahwa IAH saat ini telah diamankan oleh pihak Gereja Katolik Stati Santo Yosep pada Minggu (28/8). IAH yang saat itu menyerang pastur dengan menggunakan pisau, dan para jemaah yang saat itu hadir langsung meringkusnya. Diduga bahwa IAH ingin meledakkan bom yang ia bawa. Sangat mengejutkan, seorang anak yang masih dibawah umur memiliki keinginan untuk membunuh dan menjadi pelaku teror bom.

Akan tetapi dari hasil penyelidikan diduga ada seseorang yang telah mempengaruhi pelaku untuk melakukan tindakan keji tersebut. Kejadian tersebut juga ditegaskan oleh ayah IAH yaitu Makmur Hasugian kepada wartawan pada Selasa (30/8), bahwa terdapat beberapa orang yang telah mempengaruhi anaknya yang masih dibawah umur tersebut. Mereka memberikan iming-imingi bahwa segala kebutuhannya akan segera terpenuhi, asalkan ia melakukan perintahnya. Ia sangat yakin bahwa anaknya tersebut adalah korban, bukan sebagai pelaku. Ia juga sangat kecewa dengan adanya kasus ini, anaknya sendiri yang menjadi korban akibat pencucian otak yang dilakukan para pelaku teror bom tersebut. Dalam kesempatan kali ini, ia juga mengutuk para pelaku yang telah berhasil mencuci otak anaknya, dan telah memberikan harapan serta janji-janji yang membuat IAH terpengaruh.

Setelah dikonfirmasi, Makmur mengaku bahwa ia tidak pernah melihat IAH berkomunikasi dengan orang asing. Dan ia juga tidak pernah melihat ada orang luar yang datang kerumahnya untuk bertemu dengan IAH. Semua keluarga IAH sangat mengharapkan bahwa semua pelaku yang melakukan pencucian otak kepada anaknya dapat segera tertangkap dan mendapatkan hukuman yang setimpal. “Akibat dari kejadian ini, anak saya menjadi korban”, ucap Makmur, Selasa (30/8).

Ia juga sangat menginginkan aparat Negara lebih meningkatkan pengawasan di berbagai daerah, agar seluruh komplotan yang selalu mempengaruhi anak-anak tidak dapat berkeliaran dan semakin berkembang. Jelas akan ada banyak sekali korban, terutama anak-anak yang berjatuhan jika kasus tersebut tidak ditindak sampai keakar-akarnya.

LEAVE A REPLY