Misteri – Pusaka Dan Mitos Kebal Pangeran Diponegoro

0
1341

Kisah tentang kesaktian dari Pangeran Diponegoro sudah beredar pada kalangan warga ketika Perang Jawa pecah (1825-1830). Satu dari mitos kesaktian dari sosok Diponegoro ialah tak mempan meski ditembak oleh senjata api. Dalam buku milik Peter Carey yang berjudul Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855) dikatakan bahwa Belanda tidak percaya kekebalan Diponegoro. Pada tulisan Belanda juga ada spekulasi bahwa Diponegoro memaki pakaian tempur dengan bahan besi.

Diponegoro memang tertembak hingga 2 kali pada pertempuran yang terjadi di Gawok 15 Oktober 1826. Tetapi pada tubuh Diponegoro tidak ditemukan adanya luka tembak. Pada peperangan itu, pasukan Diponegoro dikalahkan oleh Belanda. Peter mengatakan bahwa pada Babad Diponeogoro, sosok sang Pangeran tersebut menilai bahwa kekalahan pasukan tersebut dikarenakan ia sempat main mata terhadap wanita lain. Ada 2 luka didapatnya pada pertempuran tersebut yang menjadi petunjuk daya spiritual yang menjadikannya kebal hilang sementara.

Selain halnya kebal akan senjata, Diponegoro juga mempunyai sejumlah pusaka. Pada bukunya Peter juga dijelaskan bahwa, sebilah keris bernam aBondoyudo diciptakan usai melebur 3 pusaka. Bondoyudo artinya Ahli Duel Tanpa Senjata. Keris tersebut dimanfaatkan Diponegoro demi membakar kembali semangat tempur pasukannya pada masa sulit ketika memerangi penjajahan Belanda.  Tidak seperti halnya pusaka yang lain, keris tersebut tetap dibawa oleh Pangeran Diponegoro sampai akhir hayat. Usai kalah perang, Diponegoro pun diasingkan ke Manado kemudian Makassar.

Diponegoro wafat di Senin 8 Januari 1855 pada Benteng Rotterdam, di Makassar. Diponegoro meninggal persis usai matahari terbit pukul 06.30 WIB. Beliau wafat pada usia 70 tahun. Lalu jenazahnya dimakamkan pada Kampung Melayu, di Makassar, bersamaan dengan keris pusaka, yaitu Kanjeng Kiai Bondoyudo. Pusaka itu menjadi satu dari beberapa pusaka lain yang dikembalikan pihak pemerintah Belanda. Pada Galeri Nasional, hari Kamis (5/2) malam, Michael Bauld, selaku perwakilan Belanda menyerahkan tongkat yang juga milik Diponegoro. Menteri Anies pun menerima tongkat yang senantiasa dibawa oleh Diponegoro saat perang Jawa tersebut. Selain halnya tongkat, beberapa benda diantaranya jubah, keris, pelana serta tombak dikembalikan.

activate javascript

LEAVE A REPLY