Kabar Kesehatan – Puasa Mungkin Dapat Mengobati Penyakit Huntington

0
1

Studi baru menunjukkan bahwa membatasi asupan makanan ke periode waktu tertentu dapat memberi manfaat bagi orang yang hidup dengan penyakit Huntington. Setelah mempelajari model tikus dari penyakit ini, para periset menemukan bahwa pengaturan jadwal makan (pembatasan akses makanan hewan pengerat 6 jam setiap hari) menyebabkan penurunan kadar protein mutan yang signifikan yang diketahui berperan dalam penyakit Huntington. Studi ini dipimpin oleh Dagmar Ehrnhoefer, yang bekerja di Pusat Pengobatan Molekuler dan Terapi di Universitas British Columbia (UBC) di Kanada.

Penyakit Huntington adalah kondisi neurologis progresif. Permulaan penyakit Huntington paling sering terjadi antara usia 30 dan 50. Gejalanya meliputi gerakan tak disengaja, masalah mobilitas, dan gangguan kognitif. Saat ini tidak ada obat untuk penyakit Huntington dan tidak ada perawatan yang dapat memperlambat perkembangannya.

Penyakit Huntington disebabkan oleh mutasi gen hunttin (HTT), yang diwarisi dari orang tua dengan mutasi. Mutasi gen HTT menyebabkan produksi bentuk mutan protein HTT, yang disebut mHTT. Penelitian telah menyarankan bahwa mHTT bekerja dengan protein lain untuk mendorong perkembangan penyakit Huntington.

Sebagian besar penelitian yang mencari pengobatan baru untuk penyakit Huntington berfokus pada penargetan gen HTT, namun Ehrnhoefer dan rekannya menyarankan agar mengurangi tingkat protein mHTT bisa menjadi strategi alternatif. Dalam studi baru, mereka menunjukkan bagaimana puasa berkepanjangan setiap hari dapat membantu mengurangi tingkat mHTT di otak.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa puasa dapat bermanfaat bagi orang-orang dengan kondisi neurologis progresif lainnya, seperti multiple sclerosis, sehingga tim berusaha untuk menentukan apakah strategi semacam itu dapat menguntungkan orang-orang dengan penyakit Huntington.

Para peneliti menemukan temuan mereka dengan mempelajari model tikus penyakit Huntington. Mereka membatasi akses tikus terhadap makanan, sehingga tikus hanya bisa makan selama 6 jam setiap hari, dan mereka berpuasa selama 18 jam berikutnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembatasan makanan memicu proses yang disebut autophagy (sel proses pembersihan diri) pada tikus.

Sebagai akibat langsung dari autophagy yang diinduksi puasa, tingkat mHTT pada otak tikus ‘berkurang. Selanjutnya, para ilmuwan menemukan bahwa tikus yang memiliki versi modifikasi gen HTT tidak mengembangkan gejala penyakit Huntington dan memiliki tingkat autophagy yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa versi gen tertentu ini menghentikan protein mHTT “dapat dibelah,” atau dipotong di wilayah tertentu.

Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa “situs pembelahan” mHTT juga dapat memainkan peran kunci dalam autophagy. Secara keseluruhan, tim berspekulasi bahwa menargetkan lokasi pembelahan protein mHTT atau melakukan puasa bisa menjadi dua strategi pengobatan yang menjanjikan bagi orang-orang dengan penyakit Huntington.

LEAVE A REPLY