Kabar Kesehatan – Penyebab Meninggal pada Pasien Diabetes Bukan Disebabkan Gula Darah Tinggi

0
95

Prof Dr Idrus Alwi SpPD, Ketua dari Pengurus Besar Perhimpunan Ahli penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), mengungkapkan jika 60 -73 persen yang menyebabkan kematian pada pasien diabetes adalah bukan karena gula darah yang terlalu tinggi, melainkan karena komplikasi penyakit yang terjadi.

“Angka kematian yang tinggi pada orang yang terkena diabetes bukan karena gula darahnya yang tinggi, juga bukan karena komplikasi pada mata, penyakit ginjal, akan tetapi disebabkan oleh penyakit kardiovaskular,” ujar Idrus di acara “Diskusi Media AstraZeneca, di kawasan Menteng, Kamis (27/04/2017).

Dari data CDC (Centers for Disease Control yang dipaparkan, Idrus mengatakan, jika pasien diabetes militus tipe 2 mempunyai resiko mengalami stroke, penyakit jantung koroner, dan gagal jantung.

“Penyakit jantung koroner, penyempitan, penyumbatan pada koroner yang terjadi dua sampai empat kali lebih besar jika dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes,” katanya.

Di tahun 2015, ada 10 juta orang yang menderita penyakit diabetes di Indonesia. Idrus juga menambahkan, bahkan diperkirakan pada tahun 2040 nanti, angka tersebut akan naik hingga 16,2 juta. Hal itu disebabkan karena diabetes sudah menjadi sebuah penyakit epidemi (berjangkit cepat yang mempunyai cakupan wilayah luas) yang saat ini terus meluas ke penjuru dunia.

AstraZeneca yang juga sebagai salah satu perusahaan dibidang farmasi yang mendukung untuk kemajuan sains dan pengembangan dari obat melakukan penelitian yang disebut CVD-Real skala besar pertama. Penelitian tersebut mempunyai tujuan memantau efek  pengobatan penghambat SGLT-2 (SGLT-2 inhibitor) yang dilakukan pada pasien diabetes tipe 2

“Tujuan dari penelitian CVD-Real ini untuk mengetahui efek dari obat SGLT-2 terhadap resiko gagal jantung dan juga kematian serta bagaimana obat tersebut bisa membantu menurunkan angka kematian,” ujar Idrus.

Data yang diperoleh dari 300 ribu pasien yang terbagi di enam negara, seperti Inggis, Norwegia, Denmark, Swedia, Jerman dan Amerika. Selama penelitian berjalan lima tahun, diketemukan penurunan dari tingkat rawat inap dan kematian setelah memakai SGLT-2.

Hasil penelitian tersebut lalu diterapkan pada pasien diabetes tipe-2 di Indonesia. Dengan disesuaikan peraturan yang dikeluarkan oleh BPOM. Untuk penggunaannya obat ini bersifat kombinasi serta bukan obat tunggal pengobatan diabetes.

LEAVE A REPLY