Kabar Kesehatan – Apakah Stevia Memiliki Efek Samping?

0
40

Stevia merupakan pemanis non-gizi atau tanpa kalori yang dibuat dari glikosida steviol. Ini adalah senyawa yang diekstraksi dan disuling dari daun tanaman Stevia rebaudiana. Untuk mengurangi konsumsi kalori, kebanyakan orang saat ini lebih memilih menggunakan stevia sebagai pengganti gula.

Selama berabad-abad orang telah menggunakan stevia sebagai pemanis dan suplemen herbal. Stevia memiliki tingkat kemanisan 200 kali dibandingkan gula putih tradisional. Namun, menurut Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat hanya glikosida steviol dengan tingkat kemurnian tinggi yang aman dikonsumsi manusia. Karena FDA belum menyetujui ekstrak stevia mentah dan daun stevia sebagai bahan tambahan makanan.

Menurut FDA, konsumsi harian yang dapat diterima untuk stevia glikosida adalah 4 miligram (mg) per kilogram berat badan. Bila digunakan sebagai pemanis, para ahli tidak menganggap stevia dengan tingkat kemurnian tinggi memiliki efek samping yang merugikan.

Selam beberapa dekade terakhir telah dilakukan penelitian tentang potensi efek samping dari stevia, sebagian besar dilakukan dengan menggunakan hewan laboratorium. Efek samping potensial yang terkait dengan konsumsi stevia meliputi kerusakan ginjal, gejala gastrointestinal, reaksi alergi, hipoglikemia atau gula darah rendah, tekanan darah rendah, gangguan endokrin

Beberapa orang berisiko tinggi terkena efek samping dari penggunaan stevia. Hal ini dikarenakan stevia dapat menurunkan gula darah dan tekanan darah, dan bertindak sebagai diuretik. Konsumsi stevia dengan tingkat kemurnian tinggi dalam dosis rendah, umumnya dianggap tidak menimbulkan resiko kesehatan bagi ibu hamil. Studi dengan menggunakan embrio tikus telah menghasilkan bahwa stevia tidak mempengaruhi kehamilan atau kesuburan dan tidak beracun bagi janin. Akan tetapi untuk penggunaan dosis tinggi atau jangka panjang, stevia dapatmemberikan efek buruk bagi kehamilan dengan meningkatkan beban kerja pada organ seperti ginjal, kandung kemih, dan jantung.

Para peneliti masih belum memahami berbagai risiko yang terkait dengan stevia dikarenakan kurangnya penelitian yang mengeksplorasi keamanan stevia bagi kesehatan. Namun, mengingat popularitas stevia, ada beberapa penelitian komprehensif berskala besar yang membahas masalah ini. Dalam sebuah penelitian awal tahun 2017, tikus dengan makanan yang terdiri dari stevia hingga 3,5 persen selama 90 hari tidak menunjukkan gejala klinis dan tidak mengalami perubahan dalam kimia darah, fungsi seluler, kompensasi, atau penampilan

LEAVE A REPLY