Kabar Internasional – Eksodus Rohingya ke Bangladesh Mencapai 270.000 Jiwa

0
26

Diperkirakan 270.000 orang Rohingya mencari perlindungan di Bangladesh selama dua pekan terakhir. Agen pengungsian PBB mengatakannya pada hari Jumat (8/9), yang mengumumkan lonjakan dramatis dari warga Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Sebuah kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa citra stelit menujukkan sekitar 450 bangunan telah terbakar di kota perbatasan Myanmar yang sebagian ebsar dihuni oleh warga etnis Rohingya, sebagai bagian dari apa yang oleh pengungsi minoritas Muslim katakan adalah usaha bersama untuk mengusir mereka.

Komisaris Tinggi Urusan Pengungsi PBB mengatakan perkiraan jumlah warga Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh sejak kekerasan meletus di Myanmar pada tanggal 25 Agustus kemarin telah meningkat dari 164.000 pada hari Kamis (7/9), setelah pekerja bantuan menemukan kelompok besar di daerah perbatasan.

“Kami telah mengidentifikasi lebih banyak orang di berbagai area yang tidak kami sadari,” kata Vivian Tan, juru bicara UNHCR, sambil menambahkan bahwa mungkin ada penghitungan ganda.

“Angka-angka tersebut sangat mengkhawatirkan, hal ini benar-benar berarti bahwa kami harus meningkatkan respons kami dan situasi di Myanmar harus segera ditangani,” tambahnya.

Upaya melarikan diri terakhri Rohingya dimulai dua pekan lalu setelah gerilyawan Rohingya menyerang pasukan keamanan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Itu memicu serangan balasan tentara di mana setidaknya 400 orang telah tewas.

Amerika Serikat, pendukung utama dari pemerintahan sipil Aung San Suu Kyi yang mulai berkuasa di Myanmar pada tahun lalu, mengatakan ada kekurangan dari pihak pasukan keamanan Myanmar dan pemerintah dalam menangani situasi tersebut.

Patrick Murphy, deputi asisten menteri luar negeri Amerika Serikat untuk Asia Timur, mengatakan bahwa Washington menyerukan pembicaraan dengan para pemimpin militer dan sipil Myanmar untuk segera memulihkan akses ke Negara Bagian rakhine atas bantuan kemanusiaan dan para jurnalis.

Dia mengatakan bahwa pasukan keamanan harus menanggapi secara bertanggung jawab atas serangan yang memulai krisis tersebut, mengatakan kepada wartaawan: “Mereka memiliki tanggung jawab untuk menjalankan kegiatan tersebut sesuai dengan peraturan tersebut sesuai dengan peraturan hukum dan hak asasi manusia internsional.”

LEAVE A REPLY