Kabar Bola Terkini- Pirlo Masih Belum Lupakan Kekalahan Atas Liverpool di Tahun 2005 Lalu

0
484

Kekalahan yang dialami AC Milan atas Liverpool dalam ajang final UEFA Champions League tahun 2005 lalu tampaknya masih belum dapat dilupakan oleh Andrea Pirlo. Kekalahan yang nyaris menamatkan karir dari gelandang elegan berkebangsaan Italia tersebut.

Hal itu diungkapkan oleh Andrea Pirlo ketika meluncurkan buku otobiografi pertama bertajuk “I Think Therefore I Play”, dimana isinya bercerita tentang karirnya selama bersama dengan tim yang dia bela atapun bersaman timnas Italia.

Sebagai salah satu pemain top Benua Biru, Eropa, banyak suka ataupun duka yang telah didapatkan oleh sosok Andrea Pirlo. Salah satu duka yang pernah dia alami tentu pada 9 tahun yang lalu di Istanbul, Turki.

Pada fina UEFA Champions League kontra Liverpool, AC Milan yang pada saat itu masih diperkuat oleh Andrea Pirlo sepertinya akan meraih gelar juara ajang bergengsi antar tim Benua Biru tersebut setelah mampu unggul 3 gol tanpa balas pada 45 menit pertama.

Tetapi gol Steven Gerrard pada awal paruh kedua menjadi awal petaka yang dialami oleh AC Milan dan hanya dalam tempo 6 menit, The Reds Liverpool berhasil menyamakan kedudukan menjadi 3 – 3 yang mana laga harus dilanjutkan melalaui drama tendangan pinalti.

Semua tentu sudah mengetahui ketika penjaga gawang Liverpool, Jerzy Dudek sukses mengagalkan tendangan eksekusi dari penyerang AC Milan, Andriy Shevchenko. Kekalahan tersebut hingga saat ini masih belum bisa diterima oleh akal sehat Andrea Pirlo.

Tidak hanya itu, dalam drama tendangan pinalti tersebut, Andrea Pirlo menjadi salah satu penendang AC Milan yang gagal menuntaskan tugasnya.

“Ketika laga tersebut selesai, kami hanya bisa duduk dan diam seperti orang bodoh di ruang ganti pemain. Kami tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun, kami tidak dapat bergerak sama sekali. Mereka telah menghancurkan mental kami saat itu.”ungkap Andrea Pirlo seperti yang telah dikutip Mirror.

“Kami sangat terpukul sejak pada saat itu dan kami semakin merasakan hal itu beberapa jam setelah itu.”

“Insomia, kekesalan, depresi serta pikiran kami pun menjadi kosong. Kami seperti mendapatkan wabah penyakit baru dan juga seperti terserang banyak komplikasi : Sindrom Istanbul.”

“Aku merasa ingin bergantung sepatu pada saat itu dan aku benar – benar merasa frustasi. Lebih buruk lagi, aku merasa seperti tidak pantas untuk menjadi seorang laki – laki.”

LEAVE A REPLY