Internasional – Otoritas Turki Tutup 15 Kantor Berita

0
133

Otoritas pemerintahan Turki telah mengeluarkan dua dekrit darurat untuk menghentikan setidaknya 15 kantor media berita. Pembekuan kantor berita ini termasuk satu-satunya media berita khusus wanita di dunia yang diduga berkaitan dengan organisasi teroris.

Lebih dari 10.000 pegawai negeri sipil juga dipecat atas tuduhan berkaitan dengan seorang ulama yang berbasis di Amerika Serikat Fethullah Gulen, yang telah disalahkan oleh pemerintah karena diyakini dalang dari upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli kemarin.

Keputusan dekrit darurat 675 memerintahkan untuk menutup 10 surat kabar, dua kantor berita dan tiga kantor majalah, sehingga jumlah total media berota yang ditutup sejak gagalnya upaya pengambilalihan dari moliter ini mencapai lebih dari 160 media. Sebagian besar kantor media yang ditutup pada Sabtu (29/10) malam kemarin ini memiliki kantor pusat yang didominasi oleh kelompok Kurdi.

“Polisi datang sekitar pukul 04:00 pada hari Minggu (30/11) pagi dan menyegel kantor. Kami belum menerima perintah dari pengadilan, tidak ada konfirmasi dari pihak hukum, tidak ada yang menjelaskan apa-apa kepada kami,” kata Beritan Canozer, seorang jurnalis di Diyarbakir untuk Jinha, kantor berita yang dikelola sepenuhnya oleh wanita.

Canozer yang sempat ditahan pada bulan Desember yang lalu saat sedang melakukan peliputan sebuah demonstrasi di Diyarbarkir karena dianggap polisi yang tampak terlalu bersemangat, ia juga menggarisbawahi bahwa penutupan kantor ini diyakini tidak akan mengehentikan pekerjaan media Jinha.

“Kami akan mencari cara lain untuk memberikan informasi kepada masyarakat, kami akan terus melaporkan, dan mereka tidak akan bisa untuk membungkam kami,” katanya.

Organisasi-organisasi hak asai manusia di Turki sendiri telah melakukan pengecaman keras atas tindakan yang dilakukan pemerintah baru-baru ini, yang telah melukai kebebasan pers di Turki.

Menutur media independen P24, 99 jurnalis telah resmi ditahan sejak intervensi militer yang gagal, yang membuat Turki kembali menjadi negara yang menahan jurnalis dengan jumlah yang tertinggi di dunia. Ribuan jurnalis telah kehilangan pekerjaan mereka. Ratusan akreditasi pers yang dikeluarkan oleh pemerintah telah dibatalkan, dan sejumlah wartawam telah dicabut paspornya, yang membuat mereka tidak bisa melakukan perjalanan ke luar negeri.

LEAVE A REPLY