Internasional – Jenderal Libya Minta Bantuan Ke Rusia

0
99

Khalifa Haftar, seorang komandan militer dari pemerintahan timur Libya telah bertemu dengan menteri luar negeri Rusia. Dia bertemu dengan Sergei Lavrov untuk melakukan pembicaraan perihal permintaan dirinya meminta bantuan kepada Moskow dalam perjuangannya melawan kelompok militan ISIS di negara mereka.

Menurut medi Rusia yang melaporkan bahwa kepergian Haftar ini merupakan kunjungan kedua dirinya sejak musim panas kemarin, meminta dukungan militer dari Kremlin pada bulan September yang lalu. Belum ada kejelasan apakah pertemuan pada hari Selasa (29/11) tersebut telah memberikan keputusan tentang persetujuan memberikan bantuan militer.

“Hubungan antara kedua negara bagi kami sangat penting, tujuan kami hari ini adalah untuk semakin mempererat hubungan ini. Kami berharap bahwa kami akan menghilangkan terorisme dengan bantuan dari negera anda dalam waktu dekat,” kata kantor berita TASS yang mengutip awal pembicaraan Haftar dengan Lavrov.

Negara Libya sendiri telah terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok politik yang bersenjata setelah pemberontakan yang berhasil menggulingkan Muammar Gaddafi pada tahun 2011 silam dan tetap terpecahkan menjadi beberapa faksi-faksi yang berbasis di timur dan barat yang mendukung rival dari pemerintahan dan parlemen.

Haftar yang berlatar belakang dengan parlemen timur dan pemerintahan yang berbasis di Tobruk, telah berjuang melalui kampanye militer selama dua tahun bersama dengan Tentara Nasional Libya untuk melawan ekstrimis Islam dan lawan-lawan lainnya di Benghazi dan di tempat lain di wilayah timur. Banyak dari pengamat menduga bahwa dia berusaha mendapatkan kekuatan politik secara nasional.

Dengan mengenakan topi bulu Rusia ketika memasuki kantor kementerian luar negeri , Haftar mengatakan bahwa Lavrov telah bertemu dengan menteri pertahanan Rusia, Sergei Shoigu pada hari Senin (28/11) untuk melaporkan kebutuhan militer yang dibutuhkan oleh Haftar.

Haftar telah mendapatkan dukungan publik dari Mesir dan Uni Emirat Arab, serta Perancis untuk mengirimkan bantuan pasukan khusus untuk bekerja sama dengan Tentara Nasional Libya yang di pimpin oleh Haftar pada awal tahun ini. Kemajuan yang didapatkan oleh militer baru-baru ini telah meningkatkan popularitasnya di Libya.

PBB sendiri telah mengembargo senjata di negara Libya sejak tahun 2011 silam, untuk melarang masuknya senajta di negara tersebut. Hanya Tripoli yang pemerintahannya mendapatkan dukungan dari PBB menentang Haftar, yang mendapatkan persetujuan dari Dewan Keamanan PBB untuk membeli senajata.

LEAVE A REPLY