Film – ‘IP Man 3’, Kisah Hidup Sang Guru Bruce Lee

0
308

Tidak seperti kebanyakan film kung fu yang lain, ‘IP Man 3’ anggup membawa para penonton lebih jauh tentang dunia kung fu yang tidak hanya berkutat dengan laga maupun pertarungan. Terdapat sisi lain dalam IP Man selain label bahwa dirinya sebagai master dari beladiri Wing Chun yang juga menjadi guru master kung fu legendaris, Bruce Lee. Nah, apa kira-kira hal lain yang ditawarkan dalam film kung fu yang satu ini?

Berkisah di tahun 1959, saat dimana Hong Kong masih belum bisa sepenuhnya mandiri dan masih tergabung dalam jajahan kolonial Inggris. Pengaruh dari negara penjajah ini nyatanya masih sangat kuat membelenggu Hong Kong, termasuk dalam tataran hukumnya. Korupsi serta kejahatan jalanan juga merajalela.

IP Man (Donnie Yen) pun berusaha untuk meredam kriminalitas sekelompok gangster yang merupakan anak buah Frank (Mike Tyson). Gangster tersebut hendak mengambil alih secara paksa suatu sekolah. Aparat polisi tidak dapat berbuat banyak. Sebab Frank selalu memberikan ‘uang suap’ kepada para penegak hukum tersebut. IP Man pun mencoba membantu kelakuan seenaknya dari para gangster tersebut.

Namun bagaimanapun, IP Man juga berusaha untuk menyeimbangkan diri bahwa saat di rumah ia merupakan seorang ayah sekaligus suami. Walau sang istri sering mengeluhkan bahwa ia sudah terlalu banyak menghabiskan waktu di lingkaran masalah itu, IP Man tetap tak mau tinggal diam dan membiarkan kejahatan merusak lingkungan. Aksi heroiknya dalam mempertahankan sekolah itu lalu merembet ke aksi teror yang terjadi pada dirinya serta keluarga.  Termasuk saat ia ditantang duel oleh Frank antara seni beladiri Wing Chun lawan tinju Barat.

Lain dari film terdahulu, ‘IP Man 3’ lebih mengajak menyelami karakter ‘IP Man’ secara lebih dalam. Termasuk bagaimana dirinya mendidik sang anak samapi mencoba untuk menyampaikan bentuk kasih sayangnya erhadap sang istri yang sedang didera penyakit saat tekanan demi tekanan musuh semakin membabi-buta. Di samping itu, sang guru besar beladiri ini ternyata juga luwes dalam berdansa. ‘IP Man’ seakan mengatakan kalau sehebat apapun pendekar tidak akan ada artinya tanpa dukungan orang-orang terkasih.

LEAVE A REPLY