Fakta Cerita Misteri – Situs Ratu Boko

0
1546

Hingga saat ini, situs yang bernama Ratu Boko ini masih menyisakan misteri dalam sisi historisnya. Tidak ada arkeolog yang sanggup mengidentifikasi siapakah yang telah mendirikan situs tersebut, ataupun siapakah raja bertahta pada Kraton Ratu Boko tersebut. “Kalau tentang sejarahnya masih belum terpecahkan, dan masih jadi misteri,” terang Didik Tri Ardianto yang merupakan Staf Operasional dari TWC Ratu Boko, baru-baru ini.

Meski begitu, masih ada secercah pencerahan tentang Keraton Ratu Boko. Diketahui bahwa Ratu Boko menjadi situs arkeologi yang berupa peninggalan dari Kerajaan Mataram abad ke-8, yang menjadi cikal bakal dari pendiri Candi Borobudur serta Candi Prambanan. Dari catatan sejarah, Keraton Ratu Boko dulunya dimanfaatkan di masa Dinasti Syailendra yang tercatat sebelum dari masa Raja Samaratungga (pendiri Borobudur) serta Rakai Pikatan (pendiri Prambanan).

Di situs tersebut juga ditemukan prasasti oleh Rakai Panangkaran di tahun 746-784 Masehi. Ratu Boko ini disebut pula Abhayagiri Wiraha. Kata Abhaya yang berarti “tak ada bahaya”, lalu kata Giri artinya “bukit”, serta wihara adalah “asrama ataupun tempat”. kesimpulannya, Abhayagiri Wihara mengandung artian “asrama dan wihara untuk para biksu Buddha yang ada di bukit yang penuh kedamaian (tanpa ada marabahaya)”.

Selanjutnya, diantara tahun 856 hingga 863 Masehi, Abhayagiri Wihara ini dirubah namanya dengan Keraton Walaing serta benteng pertahanan Raja Vasal yang bergelar Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Dalam Prasasti Siwagrha juga menyebutkan bahwa tempat ini menjadi benteng pertahanan terdiri dari tumpukan ratusan batu dari Balaputra.

Pada abad 10 sampai dengan abad 16 tak ada terdengar berita terkait Keraton Walaing. Kemudian kisahnya bersambung 90 tahun kemudian. Tahun 1790, tercatat Van Boeckholtz telah menemukan sebuah reruntuhan purbakala pada situs Keraton Ratu Boko. Kemudian pada seratus tahun kemudian, seorang bernama FDK Bosch menggelar penelitian serta melaporkan hasil dari penelitian tersebut dengan tajuk Kraton Van Ratoe Boko.

Semenjak itu, situs ini dikenal dengan Keraton Ratu Boko. Nama ini berasal dari kata Keraton yang berarti istana, Ratu artinya raja, dan Boko berarti Bangau. Lalu “Siapakah Raja Bangau ini? Nama dari sesosok penguasa ataukah burung, gak ada yang mengetahui,” katanya.

LEAVE A REPLY