Cerita Fakta Misteri – Anomali Atlantik Selatan

0
1077

Kalau akhir-akhir ini banyak beredar pemberitaan yang mengungkap kembali tentang lokasi-lokasi misterius yang dapat mempengaruhi sensor ataupun benda yang melintas diatasnya seperti halnya pada segitiga Bermuda ataupun segitiga Naga yang berada di bumi, mungkin Anda juga akan bertanya, adakah tempat seperti ini di luar angkasa?Dan ternyata memang benar ada. Adalah South Atlantic Anomaly (SAA) yang merupakan sebuah kawasan di mana radiasi Sabuk Van Allen Dalam atau inner Van Allen Belt berada paling dekat dengan permukaan bumi.

Kawasan tersebut berpusat pada sebagian lepas pantai Brazil, kawasan tersebut juga bertanggung jawab pada masalah yang sering dialami oleh satelit serta pesawat ruang angkasa, mulai dari merusak program sampai dengan mematikan fungsi. Teleskop Hubble pun juga sengaja dimatikan saat melintasi kawasan yang tak normal ini, jadwal spacewalks dari stasiun luar angkasa internasional pun juga menghindar saat akan melewati kawasan tersebut. Hal ini bukanlah sekedar kendala teknis, namun sejumlah astronot menyatakan melihat semacam “bintang jatuh” pada visual mereka saat mereka melintasinya.

Tingkat radiasi tinggi yang berakumulasi pada anomali yang tak pernah terjadi selama kurun 10.000 tahun  ini menjadi dugaan terdekat para ilmuwan sebab apa yang menjadi pemicunya masih belum diketahui pasti oleh para ilmuwan. Anomali pada magnetosfer ditunjukkan pada makin lemahnya magnetosfer bumi dibanding pada  200 tahun yang lalu. Saat ini magnetosfer bumi mengalami keretakan 160.000 KM tepatnya di atas Atlantik, ahli geologi menyebutnya dengan Anomali Atlantik Selatan.

Analisis lain mendeskripsikan saat satelit Pamela melewati Anomali Atlantik Selatan itu, sejumlah ribuan kali lipat antiproton yang asalnya dari partikel menjadi terlarut di angkasa luar. Antirproton menjadi “hancur” saat bertemu “normal matter.” Tim peneliti yang menyatakan hal ini membuktikan lapisan antiproton yang mana dianalogikan sabuk Van Allen menampung antiproton tetap di tempatnya sampai setidaknya mereka kontak dengan “normal matter” hingga kemudian mereka “hancur” menjadi kilatan cahaya.

Lapisan tersebut adalah “antiproton yang berlimpah di dekat Bumi,” kata Alessandro Bruno dari Universitas Bari yang juga ikut dalam laporan penelitian tersebut. “Antiproton bisa hilang saat berinteraksi dengan benda di atmosfir khususnya pada yang posisinya lebih rendah dimana kehancuran partikel akan menjadi mekanisme yang utama,” terangnya pada BBC. Sebuah pesawat yang melintasi kawasan ini akan alami kerusakan atau yang terburuk mengalami “bencana” yang mengerikan. Karena itulah, astronot pun menyebut wilayah ini dengan Segitiga Bermuda Ruang Angkasa.

LEAVE A REPLY