Berita Misteri – Kabupaten Yang Pantang Dikunjungi Presiden

0
2217

Entah berasal dari siapa mitos berkembang di masyarakat lokal yang mengatakan jika presiden RI mengunjungi daerah tertentu dipercaya akan lengser. Terlepas dari kebetulan dan tidaknya, tetapi sejumlah presiden yang telah berkunjung di Kediri (sebelum SBY) tak lama kemudian lengser. Dimulai dari Soekarno , Habibie dan Gus Dur yang lengser usai tidak lama mengunjungi kota tahu tersebut. Sementara hingga 32 tahun memerintah, Soeharto tak pernah memijak bumi Kediri.

Pada riwayat dari Babat Kadhiri, konon ada kutukan kerajaan Kediri saat terlibat peperangan yang bunyinya, “Bila pasukan Kediri yang menyerang musuh pada wilayah lawan terlebih dulu maka akan senantiasa menangkan peperangan, dan sebaliknya apabila musuh yang langsung menyerang ke Kediri terlebih dulu maka pihak musuhlah yang akan selalu mendapat kemenangan.” Ada yang mengartikan bahwa, saat seorang presiden berani mampir ke Kediri, posisi dari mereka akan dengan mudah diserang musuh maupun lawan politik.

Sementara itu, kabupaten yang juga mempunyai mitos serupa yaitu Bojonegoro. Dan konon katanya dari keenam presiden Indonesia, hanyalah Soekarno yang sempat menginjakkan kaki wilayah legenda Angling Dharma tersebut.  “Tak ada seorang presidenpun yang memijakkan kakinya di tempat ini. Tak tahu mengapa,” terang Gus Mul, salah satu tokoh masyarakat Bojonegoro ketika berbincang Senin lalu (10/3/14). Namun sebagai pemuka agama, Gus Mul pun mengenyampingkan keberadaan mitos itu. “Itu mitos. Kalau ingin datang, ya silakan datang saja,” kata Gus Mul.

Memang tak banyak fakta dari mitos di Bojonegoro ini. Tapi dari penuturan masyarakat atau orang (sepuh) tua dulu menyebutkan pantang saat pada peperangan terlebih dahulu menyeberang Bengawan Sore (Bengawan Solo), siapa yang menyeberang dulu pasti akan kalah. Kisah tersebut terbukti pada cerita peperangan dahsyat Bengawan Solo yang telah merobohkan Arya Penangsang atau dikenal Aryo Jipang, sang penguasa dari Kadipaten Jipang.

Arya Penangsang tewas beserta kudanya, Gagak Rimang, usai dikeroyok oleh prajurit Sultan Pajang, atau Sultan Hadiwijaya (Maskarebet, Jaka Tingkir). Pada buku Babad Tanah Jawi oleh W.L. Olthof pada Leiden, Belanda tahun 1941, guna menumpas Arya Penangsang pemberani tersebut sangatlah sulit sebab kesaktiannya yang tiada tanding. Arya Penangsang tewas oleh pedang serta tombak usai melanggar kutukan dengan menyerang terlebih dulu dan menyeberangi bengawan.

LEAVE A REPLY