Berita Internasional – Australia dan China Latihan Gabungan di Laut Sengketa

0
170

Dilaporkan ada 2 unit kapal perang milik Australia segera bergabung pada sesi latihan angkatan laut bersama China pada wilayah perairan Laut China Selatan mulai pekan depan. Latihan tersebut dilakukan saat ketegangan semakin meningkat di wilayah yang jadi sengketa tersebut. Ketegangan dipicu kapal perang AS masuk ke daerah yang diklaim milik China.

Seperti yang diberitakan oleh Reuters, pada Rabu (28/10), kapal perang HMAS Stuart dan HMAS Arunta segera tiba di pangkalan militer China kawasan Zhanjiang, sebelah selatan provinsi Guangdong, pada minggu depan seperti yang dikatakan oleh Menhan Australia, Marise Payne. “AL Australia memiliki sejarah panjang pada kontribusi angkatan laut regional serta mengunjungi pelabuhan secara rutin dan mengadakan latihan,” terang Payne.

Keadaan di Laut China Selatan mulai pekan ini memang memanas usai kapal perang AS masuk sejauh 12 mil laut jaraknya dari Kepulauan Spratly yang sebelumnya diklaim pemerintah China. Langkah AS ini menjadikan pihak Beijing murka dan segera meminta klarifikasi duta besar AS. Sementara itu, Payne mengatakan bahwa kejadian ini tak akan mengganggu latihan antara Australia dan China sesuai dengan yang dijadwalkan. “Tak ada perubahan maupun penundaan jadwal karena aktivitas AS pada Laut China Selatan 27 Oktober 2015 lalu,” kata Payne.

Belum disebutkan secara pasti lokasi latihan akan digelar. Hanya saja media Australia melaporkan bahwa latihan itu akan memakai peluru tajam. Australia merupakan sekutu AS pada wilayah yang sama-sama mendesak kebebasan navigasi pada perairan Laut China Selatan yang diklaim Beijing. Tetapi Australia lebih menahan diri dan memilih bungkam atas patroli AS pada daerah yang turut diakui Vietnam serta Filipina tersebut.

Sebelumnya, Senator Australia, Arthur Sinodinos mengatakan kepada Sky News bahwa pihaknya tak ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan AS. Hal senada juga diungkap Payne. “Australia memiliki kepentingan dalam menjaga perdamaian serta stabilitas, hormat pada hukum internasional, serta menolak segala bentuk rintangan terhadap kebebasan navigasi laut serta penerbangan di atas Laut China Selatan,” kata Payne.

LEAVE A REPLY